dipulihkanNya…

Malam dini hari itu, jalanan cukup sepi, bahkan terlalu sepi. Karena di dalam mobil tidak ada orang lain selain saya, mobil pun saya pacu cukup cepat. Jarum di speedometer menunjuk angka 140. Sore tadi berangkat dari Bandung (masuk toll Pasteur) ±jam 19.30. Dan ketika jam di panel MID terpampang angka 12.55, perbatasan Jateng-DIY sudah ada di depan mata. Artinya dengan kecepatan seperti sekarang, tidak lama lagi berakhir sudah perjalanan menuju kota tercinta Jogja.

Selain sepi, jalan saat itu sangat gelap, sejauh mata memandang hanya kegelapan malam yang silau oleh sorot lampu HID. Seakan ingin lebih cepat lagi sampai, dan didukung oleh jalan yang lurus lagi mulus, akselerasi mobil saya naikkan…

Tiba-tiba tidak tahu dari mana asalnya, berkelebat bayangan hitam di depan. Sepersekian detik kemudian terdengar suara benturan  yang sangat keras.

 

(((((BRRAAAAGGHHH)))))

 

Mengalahkan suara sub woofer dari audio mobil, yang saat itu menyuarakan lagu-lagu dari album meteoranya Linkin’ Park.

Sesaat kemudian, sepiii…

Masih tanpa ada suara apapun, mata terasa sangat silau oleh lampu cabin yang otomatis seluruhnya menyala… Dan bau yang sangat menyengat dari gas ledakan air bag. Masih nanar dan bingung apa yang terjadi, sayup-sayup terdengar suara orang berlarian dari arah belakang…

“Mas gak kenapa-kenapa, mas…?”, tanya seorang Bapak yang ternyata sudah berdiri di samping pintu mobil. Ah.., sadarlah saya… ternyata barusan saya kecelakaan. Tapi tadi saya menabrak apa ya? Karena yang saya ingat tadi hanya bayangan hitam saja…

Dengan dipapah sang Bapak tadi, saya pun keluar dari mobil. Barulah saat itu saya melihat, kondisi mobil benar-benar hancur. Belakangan pihak asuransi mengkonfirmasi, kerusakan mobil “hanya” 70%. Belum memenuhi syarat untuk claim total loss yang minimal 80%.

Penasaran dengan bayangan hitam itu, walaupun sudah dicegah oleh Bapak tadi, saya pun tetap bersikeras untuk jalan ke arah belakang. Pemandangan berikutnya membuat saya tidak mampu berdiri lagi, tulang seperti lepas satu per satu…

Sebuah kendaraan, yang tidak bisa disebut sebagai sebuah sepeda motor, karena sama sekali tidak ada kelengkapan laiknya sebuah sepeda motor. Hanya ada frame body, mesin, jok, dan roda saja. Tergeletak hancur di tengah jalan jalur berlawanan, sekitar 50 m dari mobil.

Tidak jauh dari kendaraan itu, sesosok pria dewasa tergeletak di bahu jalan, sedang merintih pelan… Saat saya dekati, tercium bau minuman beralkohol yang sangat kuat. Tidak cukup itu saja, ternyata dari kerumunan orang saat itu, baru saya tahu, bahwa yang naik “sepeda motor” tadi bukan hanya pria yang yang tergeletak itu tadi, tetapi masih ada 2 orang lagi yang terpental dan tercebur ke sawah di samping jalan raya.

 

Duh Gusti…, kula nyuwun ngapura…

Dan secara perlahan, mata pun mulai menjadi gelap…

…………..

 

Saat membuka mata kemudian, saya mendapati diri saya sudah terbaring di sebuah bangku panjang di sebuah warung di pinggir jalan, tidak jauh dari situ. Dan sang Bapak tadi, lagi-lagi ada di samping saya sedang memijit kening. Dengan lembut, Bapak tadi bicara, “Mas, ada saudara atau kenalan yang bisa dihubungi? Kalau ada lebih baik ditelpon, dan apabila memungkinkan bisa datang segera.”

Setelah itu waktu seolah-olah berlalu dengan sangat cepat dengan gerakan slow motion… Mobil ambulance datang, polisi berdatangan, mobil derek merapat. Tetapi dari sudut mata, saya masih bisa melihat Bapak tadi berdiri di dekat mobil saya. Sampai akhirnya, setelah berbicara dengan kakak-kakak saya  yang sudah datang dari Jogja, Bapak tadi tidak bisa saya cari lagi keberadaannya, sampai detik ini.

Dari kakak saya, saya juga baru tahu, ternyata Bapak tadi juga menyarankan untuk mengambil barang-barang berharga yang ada di dalam mobil. Karena mobil akan segera diderek ke kantor polisi.

 

Proses di kantor polisi yang dilakukan kemudian, berlangsung sampai subuh. Dari polisi yg bertugas, diinformasikan bahwa 3 korban kecelakaan saat ini masih dirawat di ICU di Rumah Sakit terdekat. Kemudian dengan surat pernyataan dan jaminan yang diberikan, akhirnya saya diperbolehkan pulang.

Tapi, walaupun fisik ada di rumah di jogja, hati dan pikiran tidak bisa lepas dari 3 orang yang saat ini sedang terbaring di RS karena kecerobohan saya… Hancur sudah kesombongan selama ini, yang merasa mempunyai skills mengemudi yang sangat baik (karena dulu pernah belajar racing).

Sekaligus merasa sangat bersyukur. Kalau saya telusuri lagi, sungguh saya sangat beruntung. Apabila terjadi kecelakaan seperti yang saya alami, biasanya pelaku akan dihakimi di tempat oleh massa. Tapi setelah saya renungi lagi, lecet sedikit pun tidak saya alami. Betul-betu mukjizat, apalagi dengan melihat kondisi mobil yang sudah tak berbentuk lagi…

Tiba-tiba saya teringat oleh Bapak yang menolong tadi. Saya harus menemuinya lagi, dan mengucapkan terima kasih. Kalau tidak ada beliau mungkin saja saya sudah dihakimi oleh massa. Dan mungkin saja saya tidak bisa tenang dalam menghadapi kejadian dini hari tadi…

Belakangan saya baru tahu, bahwa massa yg berkumpul pada saat kecelakaan tersebut, tidak ada satu pun yang mengenal beliau, bahkan mereka juga baru sekali itu melihat sang Bapak. Apakah Bapak tersebut yang sering disebut orang sebagai Guardian Angel…? Only Heaven Knows…

 

Seolah belum cukup terpuruk, kabar sangat mengejutkan kembali datang siang itu. Seperti petir di siang hari bolong, diinformasikan bahwa 1 korban dipanggil menghadap Sang Khalik. Hancur sudah pertahanan mental ini. Titik terendah yang pernah saya alami seumur hidup. 1 nyawa pergi karena ketololan saya… Sisa hari itu dan hari-hari berikutnya sudah pasti tidak akan sama lagi…

Oh Tuhan, kenapa saya? Kenapa saya yang Kau beri cobaan yang di luar batas kemampuan saya untuk menanggungnya…??

Tetapi Tuhan berkata lain, cobaan belum cukup berat menurutNya. Tepat 26 jam kemudian, 1 korban lagi dipanggilNya…

Kering sudah air mata. Mati sudah perasaan hati ini. Sudah tidak bisa merasakan apapun lagi setelah berita itu datang. Seandainya mungkin, saya sangat rela untuk menggantikan 2 korban tadi menghadap Sang Alfa dan Omega.

 

Waktu-waktu yang berlalu setelah itu, adalah perjuangan untuk bangkit lagi. Sangat tidak mudah. Dan sangat tidak singkat. Lebih dari 1 tahun saya tidak berani menyetir mobil lagi. Bahkan saat naik mobil dengan tidak mengemudi pun, hanya dengan melihat sepeda motor melintas saja, dada berdegup dengan sangat kencang dan keluar keringat dingin.

Urusan dengan keluarga korban dan kepolisian, juga berliku. Tidak sedikit waktu dan biaya yang keluar. Bahkan sampai menguras tabungan selama ini. Belum lagi terpaksa harus resign dari tempat bekerja. Dengan lokasi bekerja di luar kota dan harus secara rutin wajib lapor ke Polres Purworejo, mau tidak mau mengharuskan saya untuk resign.

Total waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan itu semua lebih dari 5 bulan. Dan perlu waktu lebih dari 9 bulan kemudian untuk berani memutuskan kembali bekerja…

 

Pada akhirnya, setelah semua proses kebangkitan itu saya jalani, dan saya kembali dipulihkanNya, pertanyaan itu saya ucapkan lagi…

“Kenapa Tuhan, kenapa saya yang sangat berdosa ini, masih Engkau limpahi kasih dan berkat yang tak terhingga? Sehingga Kau mampukanku untuk menjalani ini semua…”

 

(Based on a true story…, seperti yang telah diceritakan kepada penulis)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top