Interstellar dan Logika

Sudah cukup lama sebenarnya diskusi tentang film “Interstellar” mengemuka. Baik dengan teman-teman group chatting sampai diskusi saat ngobrol santai di kantin pas makan siang, atau saat bersantai minum kopi di café. Tapi baru tadi malam lah saya sempet nonton filmnya. Dan akhirnya saya pun jadi mafum, kenapa Interstellar begitu menghebohkan. A must seen movie. Bagi para penikmat film, Interstellar menurut saya cukup komplit menyasar ke pelbagai segment.

 

Special Effect

Bagi penyuka special effect, film ini sangat luar biasa. Imaginasi tentang outer space dan galaksi, digambarkan secara detail. Imaginasi planet-planet di galaksi lain, digambarkan secara liar dan ekstrem. Dingin dan mencekat, karakter dari Mann’s Planet. Kita akan bisa merasakan keputusasaan dari Dr. Mann, tinggal di planet yang mempunyai siklus siang dan malam selama masing-masing 67 jam di suhu yang sangat rendah dan tak beroksigen, hanya ammonia. Bahkan awan pun secara ekstrem berubah menjadi bongkahan es. Bayangkan saja, kontur daratan pegunungan yang tertutup es di bawah, dan awan es di atas. Seolah-olah kita berada di terowongan es yang tak berujung.

Lain lagi dengan dengan Miller’s Planet. Permukaan planet ditutupi seluruhnya oleh air seperti lautan, walaupun hanya sedalam ± 50cm. Sejauh mata memandang hanya warna biru air laut yang tenang, semakin menambah keindahan planet itu. Tapi bukan planet asing namanya kalau tidak liar. Ya, ketenangan air laut itu hanya baru sebagian kecil dari ketidakstabilan Miller’s Planet. Sesaat kemudian, serasa kita harus menahan nafas, saat menyadari gelombang raksasa puluhan bahkan ratusan meter (semacam tsunami) datang mendekat secara tiba-tiba mengejar kita.

Imaginasi tentang worm hole dan black hole pun digambarkan secara indah sekaligus destruktif. Bagaimana mungkin sesuatu yang indah penuh warna dan cahaya, juga bisa mematikan. Angan dan khayalan kita benar-benar dipermainkan dalam film ini.

Satu-satunya special effect yang masih bisa kita terima logikanya, mungkin hanya badai debu. Bumi yang semakin menua, menjelang punah, tidak di-explore terlalu dalam di film ini. Secara visual, hanya digambarkan dengan seringnya terjadi badai debu. Selebihnya hanya narasi. Namun demikian, badai debu ini pun cukup membuat kita ikut sesak nafas.  Kita seakan-akan dibawa oleh sang sutradara Christopher Nolan, ikut terjebak dalam badai debu ini.

 

Scenario

Skenario Interstellar tidak benar-benar orisinil. Tema semacam sering sekali kita temui dalam film-film Hollywood lainnya. Bumi yang hampir punah, dan menjadi tidak layak lagi untuk dihuni, memaksa manusia untuk mencari alternative tempat lain untuk hidup. Dalam Elysium digambarkan sebagai stasiun luar angkasa, atau planet baru dalam Red Planet. Yang sangat menarik dari sisi scenario film ini adalah dijadikannya science sebagai landasan utama. Cukup menjungkirbalikkan akal dan logika, apalagi seperti saya yang berlatar ilmu social. Baiklah, nanti akan saya bahas secara khusus mengenai science ini.

 

Casting

Harus diakui, Christopher Nolan sangat jeli dalam memilih actor dan actress untuk membintangi film-filmya. Bagaimana dia sangat sukses membuat dingin dan kelam Christian Bale dalam Batman trilogy. Kemudian dalam film The Prestige, emosi kita akan dikuras habis sampai kehilangan akal, tanpa tahu kepada tokoh mana kita harus bersimpati. Tokoh antagonist dan protagonist secara mix diperankan dengan luar biasa oleh Christian Bale dan Hugh Jackman.

Kepiawaiannya dalam casting, diulang kembali dalam Interstellar. Walaupun tidak se spektakular dalam Dallas Buyers Club yang mengantarkannya meraih Oscar, Matthew McConaughey sangat pas memerankan seorang astronaut NASA veteran yang jago science. Dari acting Matthew McConaughey sebagai Cooper, kita bisa merasakan beratnya tugas seorang single parent yang mengasuh dua anak usia remaja. Bahkan dari sorot matanya saja, rasa enggan menjadi seorang petani, sangat tergambar jelas. Berbeda total saat dalam perjalanan mengantar anaknya menuju sekolah, secara tak sengaja melihat sebuah drone melintas. Sorot matanya menjadi sangat antusias dan bersemangat layaknya anak-anak mendapat hadiah mainan kesayangannya.

Anne Hathaway pun bermain apik dalam film ini. Karakter sebagai Amelia Brand, scientist yang cerdas, idealis, tegar sekaligus rapuh juga secara pas dimainkannya. Sangat berbeda dengan peran yang dimainkannya sebagai Andrea dalam Devil Wears Prada maupun Maggie dalam Love & Other Drugs.

Selain dua (2) leading role di atas, para supporting role juga bermain apik. Di antaranya; Matt Damon sebagai Dr, Mann dan John Lithgow sebagai Donald (ayah mertua Cooper). Cukup surprise juga saya melihat acting Matt Damon sebagai tokoh antagonist. Berbeda jauh saat berakting sebagai Jason Bourne yang cerdas, taktis, tak kenal takut, tanpa kompromi, dan percaya diri. Sebagai Dr. Mann, Matt Damon berakting cemerlang saat memerankan scientist yang frustasi, manipulatif, serta egois.

Line John Lithgow dalam Interstellar ini memang tidak banyak. Tapi sebagai actor yang senior, cukup dengan ekspresi dan bahasa tubuh saja, sudah sangat mewarnai film ini. Sebagai petani dan the old man yang lugu, tradisional, dan bijaksana cukup bagus diperankannya. Tidak seperti peran stereotypenya selama ini sebagai tokoh antagonist.

Yang cukup disayangkan, menurut saya, adalah Jessica Chastain yang berperan sebagai Murphy Cooper dewasa. Dengan begitu pentingnya arti Murphy dalam film ini, dimainkan secara biasa saja oleh Jessica Chastain. Jauh lebih bagus saat dia memerankan Maya, CIA Analyst, dalam film Zero Dark Thirty. Atau bahkan jauh lebih kuat acting Mackenzie Foy sebagai Murphy Cooper saat kanak-kanak.

 

Plot

Banyak hal yang menjadi kekuatan dalam film ini, salah satunya adalah plot film. Plot dibangun dengan lancar. Menyadari bahwa dialog dan muatan film yang nanti akan membuat dahi berkerenyit, opening dibuka dengan cukup ringan. Pengenalan masing-masing karakter cukup simple tapi comprehensive.

Intense film dibuat semakin meningkat dari menit ke-30 sampai film mendekati akhir. Melalui dialog –dialog cerdas sekaligus rumit antar karakter, maupun audio dan visual, benar-benar membuat kita terhanyut dalam film yang berdurasi 169 menit ini.

Mata kita serasa diajak berpetualang melalui sajian grafis dan effect yang cukup dramatis. Demikian juga audio. Seperti pendulum yang tak mau berhenti, demikian juga pendengaran kita dimanjakan dengan gelegar backsound yang tiba-tiba senyap, tiba-tiba pula meledak.

Berbeda dengan film-film yang lain, terutama film action. Audio seakan dipacu dengan intentitas tinggi secara terus-menerus. Di film ini justru kesenyapan juga bisa membangun suasana. Misalnya saja, saat Dr. Mann membuka dengan paksa palka Endurance yang menyebabkan ledakan hebat. Alih-alih suara dentuman keras, audio justru tiba-tiba mute, hening total. Ya mungkin ini dibuat sesuai dengan kondisi di outer space yang hampa udara yang tidak bisa menghantarkan suara.

Atau pada scene yang lain, saat Cooper melepaskan diri dari Endurance di dalam shuttle. Dalam kondisi out of fuel, masuk ke dalam pusat debu dan batu angkasa yang menghantam shuttlenya secara bertubi-tubi. Dalam puncak kebisingan suara terpaan batu angkasa dan alert computer dalam kokpit, tiba-tiba kembali senyap saat Cooper melontarkan diri dari space shuttle yang akhirnya hancur lebur.

Epilog menjadi akhir yang sempurna bagi film science fiction ini. Kerumitan-kerumitan theory sepanjang film, dijelaskan secara gamblang. Secara detail peristiwa-peristiwa yang menjadi teka-teki di awal film, dijabarkan di epilog ini. Secara bisnis, epilog ini juga memungkinkan jika nantinya akan dibuat sequelnya. Saat Cooper “mencuri” sebuah shuttle untuk menjemput Amelia di Edmund’s Planet, banyak kemungkinan bisa terjadi, bahkan mungkin petualangan baru. Seandainya pun tidak ada sequel, Interstellar juga sudah selesai.

 

Nolan, Science, dan Logika

Unsur science inilah yang menjadi hal utama yang membuat film ini sangat menarik. Dan bagi seorang Christopher Nolan, theory-theory science yang sangat rumit tersebut hanya seolah-olah mainan anak kecil. Sebaliknya bagi saya yang berlatar ilmu social, memang sangat berat untuk mencerna, apa sih maksud film ini. Bagaimana mungkin dimensi ruang bisa dibelokkan dan dilipat selayaknya kertas seperti penjelasan Romilly. Atau dimensi waktu yang selayaknya sebuah lorong yang terdiri dari beberapa pintu, yang masing-masing pintu mempunyai waktu dan masanya sendiri.

Tapi di sinilah kekuatan film ini. Angan dan imaginasi kita serasa terbang ke masa dan tempat yang penuh dengan keniscayaan. Dan semua bisa dijelaskan secara ilmiah. Pun angan kita seperti dijungkirbalikkan dengan kenyataan, bahwa pada saat kembalinya Cooper dan bertemu dengan Murphy, anaknya, secara fisik Murphy jauh lebih renta. Dalam rentang seratusan tahun, fisik Cooper hanya bertambah 2 tahun saja. Kejadian yang sama, saat Cooper, Amalia, dan Doyle mendarat ke Miller’s Planet yang terjadi hanya dalam beberapa jam saja. Tapi tidak bagi Romilly yang sudah menunggu di Endurance selama 23 tahun.

Ya, Nolan memang sangat piawai dalam membesut film-film yang bertema tidak biasa. Dalam Inception, bagaimana dia bermain dengan mimpi di dalam mimpi. Seolah-olah mimpi adalah bangunan bertingkat yang bisa seenaknya saja kita kunjungi lantai per lantai, dan kembali ke lantai semula.

Atau dalam film superhero, Batman trilogy maupun Man of Steel. Mungkin bagi sutradara yang lain film akan bernuansa pop, action, atau mungkin bisa jadi comedy. Tapi tidak bagi Nolan. Menjadi beruansa gelap, suram, kelam, dan brutal.

Demikian juga yang dilakukannya dalam Interstellar. Bukan kisah heroic semacam Armageddon, atau futuristic seperti Star Trek atau Star Wars. Tapi theory-theory science yang berat dan dalam yang mengemuka.

Pada akhirnya, jika Anda bukan berlatar science seperti saya, tinggalkanlah sementara logika Anda. Niscaya Anda akan sangat menikmati theory-theory science yang tersaji dengan indah…

 

We’ve always defined ourselves by the ability to overcome the impossible. And we count these moments. These moments when we dare to aim higher, to break barriers, to reach for the stars, to make the unknown known. We count these moments as our proudest achievements. But we lost all that. Or perhaps we’ve just forgotten that we are still pioneers. And we’ve barely begun. And that our greatest accomplishments cannot be behind us, because our destiny lies above us… (Cooper, Interstellar)

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top