Kristen Adidas, by Edwin Sianturi

Ada satu ajaran Yesus yang sering menjadi cemoohan orang-orang non-Kristen.

Tetapi aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan

siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. (Mat 5:39)

Jangankan buat orang non-Kristen, buat orang Kristen sekalipun, perintah ini sulit dicerna. Maka dari itu

saya tidak heran kenapa orang Batak sulit diinjili sebelum Nommensen datang ke Sumatra. Yang namanya

orang Batak, tidak ada cerita ditempeleng pipi kanan, beri pipi kiri. “Anjingpun kumakan, apalagi kau yang

tempeleng aku. Bah!” Begitu kira-kira respon orang Batak kalau Anda berani melontarkan ide ini.

 

Lawan!

Tidak diragukan, karena ingin menjalankan perintah ini secara letterlijk, banyak orang Kristen yang bersifat

pasif jika dizolimi oleh pihak lain. Kenyataannya, Yesus sendiri tidak pernah menyodorkan kembali pipi-Nya

ketika ditampar. Tengok sendiri ceritanya:

Ketika Ia mengatakan hal itu, seorang penjaga yang berdiri di situ, menampar muka-Nya sambil berkata:

“Begitukah jawab-Mu kepada Imam Besar?” Jawab Yesus kepadanya: “Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah

salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?” (Yoh 18:22–23)

Anda lihat sendiri, Yesus tidak bisa menerima diri-Nya ditampar tanpa alasan yang jelas. Sebaliknya, Yesus

memprotes perlakuan tentara Romawi tersebut.

Sikap yang sama juga diperlihatkan oleh rasul Paulus di Kisah Para Rasul 16. Saat berada di Filipi,

Paulus dan Silas dijebloskan ke dalam penjara dengan kaki yang dibelenggu dalam pasungan. Singkat

cerita, keesokan paginya, setelah peristiwa gempa bumi dan serangkaian peristiwa ajaib pada malam harinya,

pembesar-pembesar kota menyadari bahwa mereka telah melakukan kesalahan dan mengirim perintah untuk

membebaskan Paulus dan Silas. Mari kita lihat respon Paulus terhadap perintah pembebasan ini:

Tetapi Paulus berkata kepada orang-orang itu: “Tanpa diadili mereka telah mendera kami, warganegara-
warganegara Roma, di muka umum, lalu melemparkan kami ke dalam penjara. Sekarang mereka mau

mengeluarkan kami dengan diam-diam? Tidak mungkin demikian! Biarlah mereka datang sendiri

dan membawa kami ke luar.” (Kis 16:37)

Jauh dari pasif, Paulus tidak terima diperlakukan semena-mena. Pada akhirnya, pembesar-pembesar kota

datang sendiri membebaskan Paulus dan Silas.Saya jadi bertanya-tanya, jangan-jangan orang Kristen lebih

Kristen dari Yesus dan Paulus. Kelihatannya ada yang salah dalam menginterpretasikan Matius 5:39. Karena

tertulis “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat,” maka orang Kristen cenderung bersikap pasif

tanpa perjuangan sama sekali ketika terjadi ketidakadilan.

Sebetulnya kalau ditilik dari struktur tata bahasa Yunani, ayat ini cukup membuat pusing penerjemah Alkitab

Perjanjian Baru. Kata ‘orang yang berbuat jahat’ dalam bahasa aslinya adalah to ponero. Ada 3 kemungkinan

dalam menerjemahkan kata to ponero di Matius 5:39a, dan terjemahan yang paling tepat harus melihat konteks

penggunaan kata ini.

Kemungkinan pertama adalah menerjemahkan kata to ponero seperti yang tertulis di kebanyakan versi Alkitab

(termasuk versi LAI), yakni dengan memandang to ponero sebagai obyek tidak langsung dalam kasus datif.

Dalam salah satu versi Alkitab Indonesia, kata ini diterjemahkan sebagai ‘yang jahat’,

Janganlah melawan yang jahat. (Mat 5:39a, MILT)

Opsi ini memiliki masalah, karena bertentangan dengan Yakobus 4:7 yang mengatakan “lawanlah iblis.”

Apalagi jika dibandingkan dengan misi Yesus datang ke dunia.

Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu. (1

Yoh 3:8)

Memerangi kebatilan adalah tugas yang sudah mendarah daging bagi Yesus. Sangat tidak mungkin Yesus

tinggal diam terhadap hal yang jahat.

Kemungkinan kedua adalah dengan menerjemahkan to ponero dalam kasus datif lokatif.

Janganlah kamu melawan di alam jahat. (Mat 5:39a, kasus datif lokatif)

Terjemahan ini sangat tidak mungkin, karena dari bunyinya saja sudah aneh. Batman kaleee!

Kemungkinan ketiga adalah dengan menerjemahkan to ponero dalam kasus datif instrumental.

Janganlah kamu melawan dengan sesuatu yang jahat.(Mat 5:39a, kasus datif instrumental)

Opsi ini terlihat paling sesuai dengan konteks keseluruhan dari khotbah di atas bukit dan tidak mengandung

komplikasi dengan keseluruhan isi Alkitab. Kesimpulannya, ketika Yesus berkata “Janganlah kamu

melawan to ponero,” Ia sebetulnya sedang berkata supaya kita tidak melawan dengan kekerasan. Kalau

kita memperhatikan pelayanan-Nya, Yesus tidak pernah setuju dengan sikap pasif dan kekerasan. Paulus

menginterpretasikan dengan baik perkataan Yesus ini:

Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan! (Rom 12:21)

Sesuatu yang jahat harus dilawan, bahkan harus dikalahkan. Tetapi caranya bukan dengan kejahatan melainkan

dengan kebaikan.

 

Tampar Pipi Kanan Beri Pipi Kiri

Jadi bagaimana caranya tidak pasif sekaligus tanpa kekerasan? Begini caranya: kalau ditampar pipi kanan, beri

pipi kiri. Persis seperti yang dikatakan Yesus.

Kalau konteks khotbah di atas bukit serta kondisi sosio-kultural dipahami, maka perkataan Yesus ini akan

lebih mudah dicerna. Pertama, semangat dari khotbah di atas bukit adalah penyangkalan diri, getting rid of self.

Ketika Anda dizolimi, jangan cepat sakit hati. Orang yang cepat sakit hati adalah orang yang egonya belum

mati. Ini prinsip yang harus dipegang dalam menginterpretasikan khotbah di atas bukit.

Kedua, pada zaman Yesus di timur-tengah, perbuatan tampar-menampar bukan bertujuan untuk mencederai

obyek penderitanya, tetapi terlebih untuk menghina dan merendahkan martabat.

Biarlah ia menyerahkan pipinya kepada orang-orang yang menamparnya dan bersabar menelan penghinaan

yang hebat sampai kenyang. (Rat 3:30, FAYH)

Lebih jauh lagi, masyarakat timur-tengah mengenal dua jenis tamparan. Jenis tamparan yang pertama adalah

tamparan yang dilakukan dengan telapak tangan. Tamparan jenis ini diperuntukkan bagi obyek penderita yang

hirarki sosialnya setara dengan subyek pelakunya. Jenis tamparan yang kedua adalah tamparan yang dilakukan

dengan punggung tangan. Tamparan jenis ini diperuntukkan bagi obyek penderita yang hirarki sosialnya lebih

rendah; misalnya antara suami dengan istri, ayah dengan anak, tuan dengan budak, penjajah dengan yang

terjajah, tentara Romawi dengan rakyat Israel.

Kenapa Yesus dengan spesifik mengatakan pipi kanan yang ditampar? Karena Yesus sedang berbicara

kepada rakyat jelata, orang-orang yang statusnya tertindas. Ketika seorang tuan menampar budaknya, ia

akan melakukan dengan tangan kanannya, karena tangan kiri hanya diperuntukkan bagi pekerjaan kotor.

Dalam masyarakat Yahudi, melakukan sebuah tindakan dengan tangan kiri akan mengakibatkan pelakunya

dikucilkan dari komunitas karena harus melewati proses ritual penyucian diri selama sepuluh hari. Selain

itu, sang tuan selalu menggunakan punggung tangan untuk menunjukkan status inferior budaknya,

sehingga otomatis tamparan akan mendarat di bagian pipi kanan.

Ketika Yesus mengatakan untuk memberi pipi kiri setelah menerima tamparan pertama, sesungguhnya Ia

sedang mengajak pendengarnya untuk menolak direndahkan martabatnya. Dalam hukum Yahudi, seorang tuan

yang menampar budaknya tidak dikenakan denda karena itu adalah haknya sebagai seorang tuan. Satu-satunya

jalan untuk menamparnya kembali jika budaknya memberikan pipi kiri adalah dengan menggunakan telapak

tangan atau memukulnya dengan tangan terkepal. Artinya, sang tuan secara tidak langsung mengakui bahwa

hirarki sosial budaknya setara dengan dirinya. Di samping itu, menampar orang yang status sosialnya setara

mendapat denda sebesar 200 zuzin (=200 hari kerja) jika menggunakan telapak tangan, 1 shekel (=4 hari kerja)

jika menggunakan kepalan tangan. Skak-mat! Skor 2-0 untuk budak persib. Kalau kejadian ini disaksikan

banyak orang, maka tuannya akan kehilangan muka karena tidak bisa melancarkan serangan kedua.

 

Renungan

Ketidakadilan dan penindasan bisa terjadi di mana-mana dan menimpa siapa saja, termasuk orang Kristen.

Khotbah di atas bukit kelihatannya menganjurkan pengikut Yesus untuk bersifat nrimo terhadap ketidakadilan

dan penindasan. Karena interpretasi yang salah, orang Kristen sering dicemooh dunia.

Saat Yesus mengatakan berikan pipi kirimu saat engkau ditampar pipi kanan, sebetulnya Ia sedang

memberdayakan orang-orang yang tertindas; mengajak mereka untuk menolak terus-menerus dipermainkan

oleh sang penindas. Ia sedang mengajak para pendengarnya untuk melawan, tapi bukan dengan kekerasan.

Orang dunia melawan tirani dengan kekerasan. Kalau mereka kekurangan: jarah! Kalau mereka tersinggung:

pukul! Mereka sudah tidak percaya dengan jalan damai. Sementara orang Kristen ketika dipermalukan, hanya

diam tak bergeming… protespun tidak. Dalam hal ini kita harus belajar banyak kepada Mahatma Gandhi, salah

satu pengagum berat Kristus. Gandhi pernah berkata,

The first principle of non-violent action is that of non-cooperation with everything humiliating. — Mahatma

Gandhi

Aksi pertama yang harus dilakukan dalam menentang ketidakadilan dengan cara damai adalah dengan

menolak dipermalukan. Lawan… tapi dengan damai, tanpa kekerasan. Ini baru namanya berhikmat! Gandhi

melakukannya. Martin Luther King Jr. melakukannya. Pasti berhasil, dan akan selalu berhasil.

Ketika Anda tertindas, ingatlah bahwa Yesus menginginkan Anda bereaksi dengan cerdik seperti ular, namun

tulus seperti merpati. Ketika Anda dipukul di pipi kanan, jangan beri pipi kiri Anda, karena Anda tidak hidup

di zaman Yesus. Kalau Anda terus-menerus ditipu, jangan menghadiahkan deposito untuk sang penipu. Dan

yang terakhir, jika Anda bertemu preman dan dipaksa untuk menyerahkan sepatu Bata yang sedang Anda

pakai, jangan beri sepatu Adidas baru Anda yang masih tersimpan di lemari. Kalau Anda memberikan juga

sepatu Adidasnya, itu namanya Anda benar-benar ADIDAS… Aikyu DI bawah DASar!

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top