Mongolia, Journey To The Middle Earth….

OLYMPUS DIGITAL CAMERA   OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Mongols-map

Perjalanan yang sangat berkesan bagi saya adalah saat kunjungan ke Mongolia diawal tahun 2012 lalu, dimana saya melakukan bisnis trip selama 3 hari untuk menjajaki pengembangan usaha disana. Negara Mongolia, beribu kota Ulan Bator atau disebut juga Ulaanbaatar, terletak di Asia Tengah, terapit dan terjepit oleh wilayah Rusia dan China, atau dikenal sebagai “landlocked country”. Mongolia memiliki kekayaan bahan tambang yang luar biasa mulai dari emas, tembaga, batubara dan lain sebagainya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Mongolia sudah menorehkan sejarah dimana pada abad ke 13 berhasil menaklukan bangsa-bangsa yang ada disekitarnya dan memperluas wilayahnya mencapai sebagian besar daratan benua Asia bagian barat sampai timur bahkan menjangkau benua Eropa, salah satu tokoh yang sangat terkenal adalah Genghis Khan. Mongolia sempat menjadi bagian dari kekuasaan bangsa China dibawah Dinasti Manchu, kemudian dalam perkembangannya sebagian wilayah Mongol mendapatkan kemerdekaan pada 26 November 1924, namun sebagian wilayah Mongolia yang dikenal sebagai “Inner Mongolia” tetap berada dibawah kekuasaan China. Semenjak merdeka Mongolia berada dibawah bayang-bayang Uni Sovyet dan saat Uni Sovyet  runtuh pada 1990an maka Mongolia baru mulai berbenah secara mandiri, merdeka dalam arti sesungguhnya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA  OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA  OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Penerbangan menuju ke Ulan Bator (“UB”), ibukota Mongolia, sangat terbatas hanya bisa diakses dari Moscow, Seoul, Beijing dan Hong Kong, dimana sebagian besar dilayani oleh Mongolian Airlines (MIAT). Disamping penerbangan yang terbatas, kondisi cuaca yang ekstrim dan kerap berubah juga menyulitkan jadwal pernerbangan menuju kesana. Saat itu kami sempat tertahan hampir 12 jam di Hong Kong International Airport (HKIA) akibat adanya badai pasir yang melanda Ulan Bator, demikian pula saat perjalanan kembali menuju Hong Kong kami kembali tertahan selama 10 jam di airport sehingga jadwal penerbangan selanjutnya menjadi berantakan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Penerbangan dari Hong Kong menuju Ulan Bator ditempuh dengan selama 4-5 jam perjalanan dengan menggunakan pesawat Airbus A320 milik MIAT, bisa dibayangkan tingkat kenyamanannya mengingat jalur pesawat ini melintasi gurun Gobi dimana cuacanya sangat susah ditebak, terutama badai pasir yang sangat berbahaya. Begitu pesawat mendarat di di bandara Chinggis Khaan International Airport, kami mendapat kejutan hebat karena begitu pintu pesawat dibuka suhu dingin menusuk tulang langsung terasa, minus 14 derajat celcius. Kami tidak siap dengan perlengkapan baju dingin karena semua tersimpan di dalam bagasi, rata-rata kami hanya mengenakan sweater sekedarnya. Jadi begitu pintu dibuka kami langsung berlarian menuju area pengambilan bagasi yang lokasinya tidak jauh dari area kedatangan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA  OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA  OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kota Ulan Bator tidak terlalu luas wilayahnya, dipusat kota terdapat Sukhbaatar Square yang sangat luas dengan patung Jenghis Khan yang menjadi point of interestnya. Di dalam kota sudah mulai tampak beberapa bangun gedung perkantoran bertingkat. Di dalam kota juga terdapat beberapa kuil Budha seperti Gandan Monestry, juga beberapa museum yang menyimpan peninggalan budaya Mongol. Terdapat juga tugu peringatan perang dunia ke 2 yang terletak di puncak bukit, pemandangan dari situ cukup indah dimana kota Ulan Bator terbentang dibawahnya, hanya saja untuk menuju kesana perlu ditempuh dengan menaiki anak tangga yang cukup banyak dan terjal, benar-benar ujian fisik dan mental mengingat suhu yang cukup ekstrim bagi orang Indonesia.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA  OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA   OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Mongolia terletak didataran tinggi dengan ketinggian sekitas 1,500 meter diatas laut, sebagian besar wilayahnya dikelilingi oleh pegunungan dan gurun pasir, hal ini menyebabkan kondisi cuaca yang ekstrim dan sangat dipengaruhi oleh hembusan angin. Saat musim dingin yang berlangsung hampir selama 5 bulan, suhu udara mencapai -30 derajat celcius dan saat musim panas, udara mencapai 17 derajat celcius. Pada saat saya berkunjung di bulan April suhu mencapai -14 derajat celcius, diawal musim semi dengan sinar matahari yang cukup terik dan sisa salju masih terlihat dimana-mana.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA  OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Bangsa Mongolia, sekilas mirip dengan bangsa China, namun sesungguhnya sangat berbeda jauh baik dari segi budaya, bahasa dan penampilan fisik. Karena kondisi cuaca yang ekstrim maka Bangsa Mongol memiliki sifat yang keras dan fisik yang sangat kuat agar dapat survive, cenderung berbadan besar dan tegap, dimana makanan utamanya adalah daging dan produk olahan dari susu hewan, mengingat terbatasnya tumbuhan yang dapat hidup disini. Namun demikian wanitanya banyak yang berparas cantik dan berpenampilan menarik, tidak kalah dengan wanita di belahan dunia lain.

Dengan kemajuan ekonomi Mongol dan berkembangnya industri tambang disini, Ulan Bator menjadi magnet bagi pendatang dari berbagai penjuru dunia, di pusat kota dan di night club terlihat banyak orang barat, Korea, India, termasuk Indonesia. Oleh-oleh khas Mongolia adalah beragam kerajinan kulit dan berbagai bentuk jenis tenunan dari bulu domba, yang dikenal sebagai Mongolian cashmere.  Demikian sekilas cerita kunjungan saya ke Mongolia.(Ardhi Ishak, Gear Olympus Pen EP-3, w/various lens)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top