Pergumulan Ibu Bekerja

Pilihan untuk menjadi ibu yang bekerja adalah pilihan ku pribadi, pilihan yang didasari panggilan hidup. Sebelum menikah dan punya anak, bekerja selalu menyenangkan dan penuh kegembiraan. Setelah kehadiran seorang anak, kegembiraan yang tadinya kurasakan jadi sesuatu yang kupertanyakan. Benarkah bekerja menjadi pilihan buatku? Bagaimana dengan anakku? Bagaimana kalau aku tidak bisa mendampingi dia saat dibutuhkan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu menghantui hari-hari menjadi ibu baru.

Saat anak sulungku mulai sekolah, pertanyaan-pertanyaan itu menyeruak kembali dan terdengar lebih keras di telingaku. Melihat ibu-ibu yang menunggui anaknya di TK. Mendengar obrolan mereka mengenai hal-hal detail tentang sekolah, kebiasaan makan, mencarikan tempat les, dll membuat aku iri dan mempertanyakan lagi panggilan hidupku. Sharing dengan teman yang sama-sama ibu bekerja bukannya menenangkan justru menambah galau. Slogan “yang penting kualitas bukan kuantitas” tidak lagi memuaskanku. Kualitas pertemuan juga membutuhkan kuantitas minimal bukan? Omong kosong bilang aku mengatakan kualitas pertemuan yang penting tetapi aku tidak pernah samasekali menyediakan waktu buat anakku.

Akhirnya aku curhat sama seorang Romo di tempatku bekerja

Me: Mo, rasane kok aku iri ya sama ibu-ibu rumah tangga itu, mereka bisa full time mencurahkan perhatian ke anak-anak mereka.

Romo: Tapi mereka juga iri lho mbak sama kamu.

Me: Ah mosok sih…aku pengen banget jadi full time mom, tapi kok sulit ya kalo aku kerja gini

Romo: Bisa mbak….jadilah full time mom pas di rumah, dan full time juga pas ngajar. Yang penting jangan mendidik anakmu dengan rasa bersalah, akibatnya nggak baik mbak

Me: Maksudnya mendidik dengan rasa bersalah ki piye Mo?

Romo: Ya seperti dirimu sekarang ini Mbak, merasa bersalah karena tidak bisa memberikan banyak waktu. Yen kamu merasa bersalah karena pekerjaanmu maka kamu akan lebih permisif sama anak-anak. Hal yang seharusnya salah, tidak disalahkan karena perasaan bersalahmu, anakmu yang kasihan karena ndak dididik secara benar.

Me: Hmmm

Romo: Banyak orangtua memanjakan anaknya karena perasaan bersalah tidak bisa mendampingi, karena takut anaknya gak butuh dia lagi, karena takut anaknya berpaling. Jadi Mbak jangan mendidik anakmu dengan perasaan bersalah itu. Jadilah full time mom dan full time lecturer.

Me: Ok Mo, tks nasehatnya

Walaupun waktu itu tidak mengerti sepenuhnya makna dari nasehat itu, hatiku agak lega, aku masih bisa jadi full time mom. Perjalanan menjadi full time mom tidak mudah karena aku harus belajar fokus ke anak-anak saat di rumah dan fokus pada pekerjaan saat di kantor. Puji Tuhan aku sudah bisa melakukannya.

Sekarang aku bisa bersyukur karena aku memutuskan bekerja sebagai dosen. Selain aku bisa menjadi ibu bagi anak-anakku secara sepenuh waktu, aku juga punya laboratorium karakter anak muda. Aku bisa tau pergumulan anak-anak muda, sharing dengan mereka, membantu mencari solusi atas permasalahan mereka. Setidaknya dari pengalamanku bergaul dengan mahasiswa-mahasiswi ku aku jadi tau dengan pasti bagaimana mendampingi anakku, bila mereka punya masalah aku bisa memberi contoh bagaimana mahasiswaku mengatasi masalah tersebut dan bahkan bagaimana hasilnya. Aku menjadi lebih memahami dunia anak muda yang sangat berguna untuk kugunakan mendampingi anak-anakku.

Mari bersyukur dengan kondisi kita dan selalu ambil sisi positif dalam hidup kita.

2 thoughts on “Pergumulan Ibu Bekerja”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top