Sampai Maut Memisahkan Kita

shutterstockHIV pasangan

Aku menatap wajahnya lekat-lekat tetapi kerongkonganku tersekat tidak bisa mengucapkan satu katapun.

“ Mbak tolonglah, hanya mbak yang bisa saya harapkan, saya tidak sanggup pergi ke lain tempat!”

Florentina, adik sahabatkku, yang kutemui beberapa kali saat bermain ke rumahnya. Dokter menduga dia terinfeksi HIV karena sudah bertahun-tahun menderita diare yang kronis. Dia kini duduk di hadapanku dengan badannya yang kurus kering dan wajah yang tirus.

“ Saya tidak mau ada orang lain yang tahu, jadi tolong mbak saja yang melakukan tes nya “

Saya mengenal dia dan keluarganya, keluarga Kristen yang sederhana dan sangat taat. Di atas kertas bukan termasuk kelompok orang yang berisiko.

“ Baik, saya akan melakukan tesnya , tapi saya juga akan menghubungi dokter yang biasa melakukan konseling. Dia teman saya, dan dapat dipercaya, jangan kuatir “

Akhirnya saya tuntun dia ke ruang laboratorium untuk diambil darahnya. Hari-hari menunggu hasil adalah hari-hari yang penuh doa. Tuhan, berikanlah hasil yang negatif ! hingga suatu pagi…

“ Mbak ini semua data hasil, mohon diperiksa” kata staf saya sambil meletakkan setumpuk map di meja .

Pelan-pelan saya buka satu persatu data-data nya saya cocokkan satu dengan yang lain. Oh Tuhan!!!

Semua data menunjukkan positif dengan sangat jelas !

 

 

Pintu ruangan konseling dokter di Pokdisus HIV-AIDS RSCM itu terbuka. Aku melihat Florentina dan suaminya keluar dari ruangan itu dengan wajah yang penuh ketegaran tanpa tangis, tanpa airmata jauh di luar dugaan saya. Dia berjalan mendekati saya.

“ Bagaimana Flo?”

“ Terima kasih mbak, saya akan mulai pengobatan, harus diminum tiap hari”

“ Iya, penderita bisa hidup normal kok, tidak usah kuatir” kata saya dengan nada lirih.

Terus terang saya bukan orang yang biasa menghadapi pasien. Sisi emosi saya terlalu kuat untuk itu.

“ Suamimu bagaimana ?”

“Dia tidak mau di tes, tapi kami sepakat untuk menjalani hari-hari yang berat ini bersama”

“ Bukankah demikian janji pernikahan mbak?

 

                        “Saya berjanji senantiasa mengasihi, menyayangi dan saling setia

                        sepanjang waktu , baik pada waktu suka maupun pada waktu duka, baik

                        pada waktu berkelimpahan maupun pada waktu kekurangan , baik pada

                        waktu sehat maupun pada waktu sakit, sampai maut memisahkan kami”.

 

Katanya sambil tersenyum padaku.

“ Iya, kamu benar Flo”

Aku memeluknya.

“ Tetap semangat ya, kalau perlu sesuatu telepon saja”.

 

Aku berjalan keluar ruangan, menyusuri koridor rumah sakit untuk kembali ke kantor. Banyak pasien disitu. Aku pandangi wajah-wajah mereka. Tampaknya kebanyakan dari mereka sudah kelihatan menerima takdir mereka yang harus menderita infeksi virus HIV. Mereka saling mengobrol, bertukar informasi, bercanda baik dengan sesama penderita maupun dengan konselor-konselor yang kebanyakan adalah pejuang-pejuang LSM HIV-AIDS. Saya berharap demikian juga keadaannya di rumah sakit lain di Indonesia. FLorentina tidak pernah menanyakan kenapa dia bisa terkena HIV, salah siapa dan darimana. Dia tidak menyalahkan siapapun. Yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana dia bisa menerima penyakit ini, berjuang untuk mengobatinya dan menata masa depan yang masih Tuhan berikan saat ini. Aku masih ingat saat aku melakukan penelitian di Afrika Selatan, ada seorang pemuda yang rela menikahi pacarnya yang sudah terinfeksi HIV padahal dia tidak. Berita yang sangat menggegerkan Afrika Selatan saat itu. Pada hakekatnya penderita HIV adalah manusia biasa yang jalan hidupnya dianugrahi penyakit ini bahkan kadang dia tidak tahu mengapa dan darimana. Hendaknya kita jangan menghakimi mereka tetapi kita yang beruntung, dukunglah mereka.

 

Salemba, Juli 2015

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top