“She is a Flight Attendant” (1st of a Trilogy)

 

(((TING TUNG)))

“This is boarding announcement for flight number GA 409 destination to Jakarta. Passengers with this flight, please proceed to gate number 17. Thank you…”

 

Voice Announcer itu seketika membuyarkan lamunan Glenn di waiting lounge yang saat itu cukup sepi ini. Tiba 2 hari yang lalu, kunjungan Glenn ke kota ini untuk urusan pekerjaan. Bekerja di sebuah perusahaan jaringan retail yang memiliki store lebih dari 200 di seluruh Indonesia, memang mengharuskan Glenn untuk sering melakukan traveling. Pada awalnya sih begitu menyenangkan, bisa banyak mengenal kota-kota di Indonesia; terutama wisata, budaya, masyarakat, dan tentu saja kulinernya. Tapi setelah kunjungan ke-3, ke-4, dst, rasa bosan itu mulai melanda.

 

Bagi kebanyakan orang, mengunjungi kota ini sangat menyenangkan. Sebagai daerah tujuan wisata no. 1 di Indonesia, Bali banyak sekali menawarkan kelebihan dan kenangan. Kesempurnaan pemandangan pantai, pegunungan, dan pedesaan. Berpadu dengan kulinernya yang cukup unik dan mempunyai banyak sekali pilihan menu dari pelbagai daerah dan negara. Belum lagi pura yang sangat eksotis, juga hotel dan villa yang sangat romantis. Tidak mengherankan apabila itu semua menjadikan Bali sebagai tujuan utama bagi pasangan untuk berbulan madu. Atau paling tidak sekedar untuk mempererat jalinan kasih. Tetapi, tidak bagi Glenn, saat ini…

 

Eh.., tapi nanti dulu. Sebenarnya, ini rasa bosan atau karena suasana hati Glenn yang sedang galau …? Menjomblo lebih dari 1 tahun memang sangat tidak enak. Suasana hati bawaannya selalu sedih dan sensitif. Apalagi bagi Glenn. Banyak teman-temannya yang bilang, kalau wajah Glenn itu lumayan enak dipandang. Ganteng ganteng banget sih nggak. Tapi dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya dan terutama karakter dia yang cukup ramah dan humoris cenderung konyol, membuat dia banyak disukai orang. Dalam setiap kesempatan, dia sering menjadi pusat perhatian, apalagi dia selalu bisa membuat suasana ceria.

 

Tapi tidak hari ini. Bepergian ke Bali sendirian, dan untuk urusan pekerjaan pula, itu sangat menyakitkan. Itulah kenapa akhirnya Glenn memutuskan; setelah semua urusan kerjaan selesai, tidak perlu untuk extend stay di Bali. Padahal sekarang hari Sabtu, dan besok Minggu, hari libur. Sudah terbayang dalam benaknya, betapa menderitanya seandainya malam Minggu nanti ketika sedang jalan-jalan ke Kuta, Nusa Dua, atau Seminyak; dipenuhi oleh mereka yang sedang jalan berpasang-pasangan. Oh Noooo…, lebih baik pulang saja deh ke Jakarta.

 

————————————

Sesaat sebelum safety flight demo oleh awak pesawat, tiba-tiba Glenn memutuskan untuk berpindah tempat duduk. Dari favorite seatnya dalam setiap penerbangan, yaitu window side di emergency exit, ke aisle. Tidak ada alasan yang jelas sebenarnya. Cuma sekedar ingin berganti suasana saja, mumpung pesawat juga cukup lengang.

 

Maskapai penerbangan milik pemerintah ini, berangkat tepat waktu. Artinya jam 2 siang nanti, sudah akan landing di Jakarta. ‘Hmm…, malam Minggu nanti mau ngapain ya…?’ Dengan status jomblo saat ini, setiap kali weekend selalu menjadi momok tersendiri buat Glenn. Dia harus pintar-pintar untuk mencari kegiatan. Sudah jelas tidak mungkin terlalu sering jalan dengan teman-temannya. Mereka pasti juga punya kegiatan sendiri, entah itu dengan pasangannya atau mungkin dengan keluarga mereka masing-masing. Untuk bepergian sendiri, juga tidak nyaman. ‘Ah, sudahlah… nanti stay di rumah saja.’ Dan terbayang oleh Glenn tumpukan filem-filem DVD (waktu itu sih Blu-Ray belum ada), yang belum sempat ditonton…

 

Akhirnya pesawat pun mulai bergerak dari taxi way menuju run way. “Permisi ya mas…”, suara lembut itu seketika memutus lamunan Glenn tentang DVD. Seorang pramugari minta ijin untuk lewat sekaligus menempati seat yang tadi ditinggalkannya. Sesuai aturan penerbangan international, memang mengharuskan seat tersebut tidak boleh kosong selama proses take off dan landing.

 

Tercium aroma Viva La Juicy, saat pramugari itu lewat. Hmmm…, wangi yang sangat sexy. Terpesona oleh aroma itu, mata Glenn seperti terkena magnet pada sosok yang baru saja melewatinya. Menggunakan seragam rok dan blazer warna biru, dengan anggunnya dia pun duduk. Oh iya, saat itu seragam pramugari GA masih menggunakan rok dan blazer, belum menggunakan seragam model kebaya seperti sekarang. Seragam model kebaya, saat itu hanya digunakan oleh pramugari senior yang bertugas di business class.

 

Sesaat setelah duduk, pramugari itu langsung memejamkan mata. Mungkin saja dia merasa penat oleh padatnya jadwal terbang. Ah, kebetulan sekali, mumpung dia sedang terpejam, kesempatan itu langsung Glenn gunakan untuk sepuas-puasnya menelusuri sosok pramugari itu. Kulitnya putih dan bersih. Rambut hitamnya yang panjang diikat ke atas, standard pramugari. Cukup tinggi juga dia untuk ukuran wanita Indonesia. Glenn menebak, tinggi badannya pasti ± 170 cm. Tubuhnya pun cukup proposional, bahkan mungkin mendekati ideal. Pasti berat badannya ± 55 kg.  Kecantikan wajahnya sangat khas ke-Indonesia-annya. Dan wajah itu mengingatkan Glenn pada Dian Sastrowardoyo. Puas memandangi wajah itu, perlahan mata Glenn kemudian tertuju pada name tag yang dikenakannya, Chaterine. ‘Wahh…, nama yang indah, secantik sang empunya nama.’

 

Kecantikan Catherine dalam pandangan Glenn semakin terlihat sempurna saat menyadari penampilannya yang cukup sederhana. Tidak terlihat perhiasan yang mencolok dan make up yang berlebihan. Benar-benar tipe wanita ideal dambaan Glenn. Satu-satunya perhiasan yang cukup menonjol adalah arloji di tangan kirinya, Tag Heuer Carrera Lady. Kesan pribadi yang hangat dan sporty tapi tetap feminine, terpancar kuat dari penampilannya.

 

Mata Glenn masih tetap enggan berpaling dari sosok wanita cantik yang berjarak cukup dekat itu. Jarinya lentik dan bersih, kuku tanpa kuteks, tapi terlihat terawat. ‘Eh, sebentar… jari-jari itu…?? Tidak ada satu pun cincin yang tersemat di jari lentiknya itu. Apakah artinya dia masih single….? Asyiiiikkkk…..!!’

 

————————————

Guncangan pesawat sesaat sebelum airborne, seketika memutus khayalan Glenn tentang Chaterine. Guncangan itu pun ternyata mengganggu ketenangan Chaterine. Sepertinya waktu sesaat tadi cukup untuk membawanya dalam lelap. Dan dia pun menoleh. ‘Waduh…, sialan…!’ Betapa malunya hati Glenn, tertangkap basah sedang memandangi Catherine. Dan wajahnya pun seketika memerah oleh rasa malu yang sangat. Tapi di luar dugaan, ternyata Catherine kemudian tersenyum… ‘Oh, dunia…, betapa indahnya pemandangan di depan mata ini.’

 

Kesempatan ini tidak boleh lewat begitu saja. Dan Glenn pun memutuskan, bahwa dia harus mengajak pramugari itu berkenalan, dan mengajaknya ngobrol. Tapi ternyata itu tidak mudah. Otak Glenn yang biasanya kreatif dan ada saja ide-ide yang cukup cerdas, tiba-tiba saja buntu. Lidahnya pun serasa kelu, bahkan untuk sekedar berkata “hai”. Benar-benar bagaikan terkena mantra pembungkam mulut.

 

Beberapa saat kemudian, akhirnya pick up line itu terucap juga, ‘Hari ini jadwalnya berapa landing mbak?’. Pertanyaan yang cukup standard. Tapi Glenn yakin, pertanyaan itu akan menarik perhatian seorang flight attendant (FA). Ya, itu adalah istilah khusus dalam dunia penerbangan untuk mengetahui jadwal seorang FA, yang dihitung berdasarkan jumlah landing dalam 1 hari. Semakin banyak jumlah landing, semakin sibuk lah dia. Begitu juga sebaliknya. Dan menurut aturan penerbangan international, maksimal jam terbang bagi seorang FA dalam 1 hari adalah 8 jam. Pengecualian diperbolehkan apabila terjadi long flight. Long flight ini biasanya merupakan penerbangan yang melintasi samudera dan benua. Sebagai kompensasi dari extra jam terbang tadi, FA yang bersangkutan akan diberikan jadwal off extra.

“Empat landing, mas”, suara itu pun terdengar sangat merdu di telinga Glenn.

‘Kalo yang sekarang ini, landing yang ke berapa?’

“Ini baru yang ke-2. Masih ada 2 landing lagi…”, dan senyum itu pun masih tetap tersungging di bibir pramugari itu.

‘Oh, masih lama juga ya… Terus habis ini, terbang kemana lagi mbak?’

“Bolak balik aja sih, Jakarta Denpasar. Habis flight ini, nanti dari JKT ke DPS. Terus balik ke JKT lagi. By the way, ini mas ke Jakarta, baru mau berangkat atau mau pulang?”

‘Oh…, ini mau pulang. Kemarin sih ke Bali ada tugas kantor. Cuma 2 hari’

“Kok nanggung banget, biasanya kan kalo weekend gini malah pada mau ke Bali. Penerbangan yang sebelum ini tadi juga full…”. Jleb…, kata-kata Catherine barusan kembali mengingatkan Glenn ke kondisinya saat ini, jomblo.

‘Hmm.. iya juga sih. Tapi kebetulan besok udah keburu ada janji, mau gowes bareng sama temen-temen… ’ Oh my God, alasan macam apa pula ini… Melewatkan kesempatan ber-weekend di Bali, hanya demi mau gowes…?’ Secepat itu pulalah Glenn menyesali perkataannya barusan. ‘Aduh…, bodoh banget sih otak ini. Kenapa juga tadi gak ngomong aja, ada saudara atau temen kantor yang menikah, kan lebih masuk akal…’

“Oh gitu, emang mas kerja dimana? Sering ke luar kota ya..?”

‘Wah, lumayan sering juga. Dalam sebulan sih bisa 2 sampai 3 minggu travelingnya, hehehe… Saya kerja di perusahaan retail. Dan kebetulan punya banyak store di seluruh Indonesia. Jadi ya harus sering store visit.’

 

Obrolan berikutnya pun cukup lancar dan mengalir begitu saja. Dari sekedar hobby, kota-kota dan negara yang pernah dikunjungi. Kemudian tempat-tempat mana yang ingin sekali dikunjungi tapi masih belum kesampaian. Sampai tempat makan dan makanan favorite.

 

((Ting Tung))

Berbarengan dengan bunyi itu, lampu tanda safety belt pun padam. Artinya pesawat sudah mencapai cruising altitude. Ketinggian yang sudah aman bagi FA untuk melakukan tugas-tugasnya. “Permisi ya mas, saya ke belakang dulu”. Kembali aroma Viva La Juicy itu menerpa… Semangat Glenn pun serasa ikut terbang saat Chaterine berlalu.

 

————————————

Hilang sudah rencana Glenn untuk tidur dalam penerbangan ini. Jangankan rasa capek setelah jadwal yang cukup padat 2 hari terakhir ini. Rasa kantuknya pun lenyap entah kemana. Khayalan dan imajinasi tentang Chaterine berlalu lalang dalam benak sebagai gantinya.

 

Waktu pun terasa berlalu dengan sangat cepat bagi Glenn. Dan rupanya Chaterine juga cukup sibuk. Hanya 1 kali dia melintas, dari kabin bagian belakang ke depan, dan balik lagi. ‘Apakah dia sengaja untuk menghindar? Bukankah passenger tidak terlalu penuh? Seharusnya kan dia tidak sibuk-sibuk amat…’ Pikiran yang negatif kembali muncul dalam benak Glenn.

 

((Ting Tung))

“Flight Attendant, landing position…”

VA dari captain yang merupakan instruksi kepada para FA untuk bersiap di posisi landing, membuat dada Glenn tiba-tiba berdegup kencang. Akankah Catherine kembali duduk di kursi sampingnya lagi…? ‘Oh Tuhan, please…, kirimkan dia di sampingku lagi.’

 

Dan benar saja, harapan Glenn tidak sia-sia. Catherine pun kembali menuju seat yang sama. Tapi kali ini tak perlu lagi dia minta ijin. Cukup dengan tersenyum, dan Glenn langsung berdiri untuk memberinya jalan. Masih ada waktu ± 15-20 menit lagi sebelum landing. Kesempatan ini akan dimanfaatkan Glenn sebaik-baiknya untuk lebih mengenal Catherine.

 

Tetapi belum sempat Glenn berkata, justrus Chaterine yang memulai obrolan, “Lucu ya mas, dari tadi kita udah ngobrol banyak, tapi saya belum tahu nama mas, hehehe… Nama saya Chaterine”.

‘Oh my God, bener-bener tolol… Kenapa hal paling simple seperti ini, saya bisa lupa’, pikir Glenn. ‘Oh iya.., maaf banget, malah sampai lupa kenalan. Nama saya Glenn. Iya, tadi saya sempet baca nama Chaterine di name tag’, jawab Glenn malu sampai terlihat culun. ‘Chaterine besok terbang kemana lagi..?’

“Oh, nggak mas. Besok saya kebetulan off. Tapi ya kayaknya tetep aja gak bisa nyantai”.

‘Lho kenapa…?’

“Besok mau ke Gereja sama mama. Terus habis itu mau ke Bogor, ke rumah saudara”.

‘Hah…? Chaterine ternyata Kristen? Masa sih sampe sekebetulan itu…? Wah, berarti semakin tipis harapan untuk lebih deket lagi sama Chaterine dapat terwujud. Biasanya kebetulan-kebetulan yang indah itu adanya cuma di film Serendipity, bukan di dunia nyata seperti ini. Lagian terlalu sempurna juga sih kalau ngarep punya punya pacar seperti dia…’, kembali Glenn mengkhayal.

 

Obrolan berikutnya kembali mengalir dengan lancar. Tanpa terasa pesawatpun akhirnya touch down. Artinya, tidak lama lagi, waktunya untuk berpisah. Dengan bermaksud untuk mencoba peruntungan terakhir sebelum Chaterine kembali sibuk, satu pertanyaan terucap dari Glenn, ‘Nanti kapan-kapan kalo pas lagi gak terbang, kita jalan yuk,…?’

“Hmm…, boleh…”, hanya satu kata. Tapi itu mungkin itu adalah jawaban terindah yang pernah Glenn dengar… Asyiikkk….

 

Kejadian-kejadian berikutnya, sepertinya terjadi terlalu cepat. Masih ingin rasanya Glenn untuk dapat berlama-lama dengan Chaterine. Sesaat kemudian setelah pesawat mendekati garbarata, para penumpang pun seperti berlomba-lomba untuk berdiri.  Bunyi ring tones ponsel juga bersahutan. Hhmmm…, benar-benar “khas” penerbangan maskapai nasional. Padahal pesawat belum berhenti sempurna. Itu semua menjadikan kesempatan Glenn untuk lebih berlama-lama dengan Chaterine menjadi tidak mungkin.

 

Akhirnya, saat perpisahan itu tiba juga. Lambaian tangan dan senyum, menjadi penanda jarak yang semakin menjauh. Tapi ada yang aneh. Glenn menangkap senyuman yang sangat janggal dari Chaterine. Sangat mengandung arti. Dan Glenn benar-benar tidak tahu, apa arti senyum Catherine yang janggal itu.

 

————————————

Hanya dengan membawa bagasi kabin, Glenn tidak perlu repot-repot untuk antri di conveyor belt. Dan dengan berjalan santai sambil mengenang perkenalan dengan Chaterine barusan, dia pun segera mengeluarkan PDA O₂ dari backpack. Saat itu, pasar ponsel masih dikuasai oleh Nokia. Begitu O₂ muncul, langsung saja menjadi hits. Nggak gaul kalau belum memakai O₂.

 

‘Sejuta topan badai…!!!’, tiba-tiba saja Glenn tersadar. Dan dia menyadari, hari ini mungkin hari yang terbodoh yang dia rasakan. Akhirnya Glenn pun paham arti senyum janggal Catherine tadi. Dia lupa tidak menanyakan nomer HP Catherine. Lha terus, bagaimana caranya nanti kalau mau ngajakin Catherine jalan…?? Tapi secepat kilat itu pula, otak Glenn bekerja kembali dengan baik.

 

“Pak, ke Kelapa Gading ya… Agak cepetan Pak.” Untung saja, hari ini weekend. Jalanan relatif sepi. Sehingga Bapak ini bisa dipaksa Glenn untuk memacu taxinya. Tak perlu berlama-lama, sesampainya di rumah, Glenn langsung mandi dan berganti pakaian. Kemudian mengeluarkan mobil, dan langsung pergi lagi. Sejak landing tadi, waktu yang Glenn miliki ± 3.5 jam. Artinya hanya sampai jam 17.30.

 

Di Plaza Senayan, Glenn sudah sangat jelas, barang-barang apa yang harus dibelinya; Lindt Dark Chocolate Strawberry Intense dan CD music. Pokoknya yang ada lagunya Basil Valdez; You. ‘Hmm…, sepertinya kalau beli red roses, lucu juga kali ya…?’

 

Musical clock di atrium PS berbunyi, menandakan sudah jam 4 sore. Masih ada cukup waktu. Dan boneka-boneka di giant clock itu pun menari-nari. Seperti hati Glenn yang juga sedang menari-nari. Kali ini dia sangat senang, bahwa ide ini bisa tiba-tiba muncul dalam benaknya.

 

————————————

Di pintu kedatangan Terminal F Bandara Soetta sore itu, Glenn mencari posisi yang terbaik. Memiliki pandangan yang luas, sekaligus tidak mudah terlihat oleh orang lain. Apabila jadwal penerbangan GA JKT-DPS-JKT lancar, seharusnya pesawat yang membawa Chaterine sudah mendarat. Dan dada Glenn pun semakin berdebar-debar kencang.

 

Di ujung Timur lantai bawah Terminal F, saat itu sudah terparkir micro bus khusus untuk crew GA. Memikirkan dan membayangkan seperti apa reaksi Chaterine nanti, membuat hati Glenn semakin nervous. Belum lagi adanya kemungkinan, bahwa mungkin saja saat ini Catherine sudah dijemput oleh orang lain; bisa saja teman, keluarga, pacar, atau bahkan mungkin suaminya. Pemikiran demikian membuat Glenn semakin nervous dan berdebar-debar. Sempat terbersit dalam benak Glenn untuk pulang dan tidak jadi memberi surprise buat Catherine. ‘Tapi ah, udah kepalang tanggung. Nanti kalau tidak memungkinkan, ya sudah, tetap sembunyi aja.’

 

Nah itu dia…, dari kejauhan Glenn bisa melihat beberapa crew GA yang sudah menyesaikan tugas hari ini berjalan beriringan. Dan Chaterine ada di antara mereka. Tanpa terasa, semakin erat Glenn memegang paper bag yang berisi Chocolate, CD, dan red roses, yang dibeli di PS tadi. Dari hasil obrolan di pesawat tadi, Glenn tahu, itu semua adalah kesukaan Catherine.

 

Setelah keluar dari dalam terminal, ternyata Chaterine berjalan menuju bus. Itu artinya tidak ada yang menjemputnya. Dan Glenn pun menetapkan hatinya, ‘Baiklah…’ Langkah demi langkah Glenn kemudian menghampiri Catherine.

 

‘Hai Chaterine…’ Keterkejutan pun tampak jelas di wajah Catherine. Dan itu membuat pipinya merona. Dan Glenn pun benar-benar tidak tahu, apakah itu rona suka, malu, atau bahkan marah…?

“Lho mas, ngapain di sini…?”

‘Hhmm.., gini… Tadi ada yang ketinggalan…’

“Lho, apa yang ketinggalan…?”

‘Iya, tadi lupa nanyain nomer HP Chaterine… Nanti kalo kita mau janjian janjian jalan, gimana coba caranya, hehe. Juga sekalian mau ngasih ini, tadi sempet mampir buat beli…’, sambil mengulurkan paper bag yang dari tadi Glenn pegang dengan erat.

 

Sangat di luar dugaan Glenn, ternyata respon Chaterine sangat baik dan menyenangkan. Obrolan malam itu pun akhirnya berlanjut dengan makan malam di KFC Terminal 2 Bandara Soetta.

 

Dan akhirnya Glenn pun mencatat, hari itu, tanggal 17 November, menjadi kencan pertamanya dengan Catherine. Dan kencan itu, kemudian berlanjut dengan kencan-kencan berikutnya selama 3 tahun ke depan…

 

‘Memang benar kata orang, jatuh cinta itu memang sangat indah…’

 

1 thought on ““She is a Flight Attendant” (1st of a Trilogy)”

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top