Supaya Api Tetap Menyala, oleh Yussac Cahya Khristianto

Imamat 6 : 8-13

Saat terjadi listrik padam, pada umumnya orang akan menyalakan lilin untuk bisa tetap beraktivitas dengan baik. Tentu akan diusahakan supaya lilin tetap menyala, dijauhkan dari kemungkinan tertiup angin atau tersenggol dll. Lilin yg menyala akan membuat aktivitas tetap bisa dilakukan.

Dalam perjanjian lama, para imam juga diminta untuk menjaga api di mezbah tetap menyala (ayat 9, 12, 13). Api mezbah yang menyala menjadi bentuk kesiapan untuk melakukan bagiannya dalam membakar korban bakaran. Tata cara memberikan korban bakaran bisa dibaca dalam Imamat pasal 1. Korban bakaran dikategorikan dalam 3 jenis, berupa lembu sapi, kambing domba dan burung sesuai dengan kemampuan umat. Ada aturan dalam memperlakukan korban bakaran, kriteria korban yang layak, bagaimana menyembelihnya hingga bagaimana mempersembahkannya semua diatur dalam Imamat pasal 1. Mengapa korban diatur sedemikian rupa? Mengapa api dijaga tetap menyala? Apakah Tuhan itu semacam birokrat yang sering mempersulit apa yang bisa dibuat mudah sehingga membuat berbagai syarat bagi persembahan korban bakaran seperti itu…. Tentu Tuhan bukan hendak mempersulit umat tapi Tuhan hendak mengajarkan sesuatu pada umatnya. Bagian ini mengajarkan kepada kita setidaknya 3 hal :
1. Tuhan menghendaki umatnya fokus pada Tuhan
Syarat persembahan dan tata cara memberikannya yang rumit hendak mengajak umat untuk selalu berfokus pada Tuhan. Usaha menyenangkan hati Tuhan adalah prioritas utama dalam ritual korban bakaran yang dilakukan. Pertanyaan bagi kita saat ini, sudahkah kita menjadikan Tuhan sebagai fokus bagi tindakan kita. Apakah menyenangkan hati Tuhan adalah prioritas utama kita? Dari sekian banyak hiruk pikuk kegiatan yang kita lakukan setiap hari apakah memang Tuhan yang menjadi pertimbangan utama kita. Rasanya ada banyak hal yang terjadi mudah membuat kita berpaling dari Tuhan. Penting bagi kita untuk terus mengembalikan fokus kepada-Nya
2. Waktu merupakan pemberian terbaik kita
Syarat persembahan dan tata cara memberikannya yang rumit menghendaki umat memberikan waktu yang banyak untuk melakukannya. Kesediaan memberikan waktu bagi Tuhan adalah tanda bahwa umat sungguh mengasihi Tuhan. Besarnya pemberian bukanlah ukuran karena Tuhan memberikan alternatif yang meringankan. Namun waktu untuk mempersembahkan semuanya sama-sama butuh waktu. Dengan menaati semua kriteria Tuhan berarti waktu yang kita miliki sudah kita serahkan bagi Tuhan dan bukankah itu pemberian terbaik yang bisa kita berikan. Jika barang yang kita berikan suatu saat barang itu bisa diganti namun jika waktu yang kita berikan maka waktu itu tak akan terganti karena waktu terus mergerak maju. Sudahkah kita memberikan pemberian terbaik kita yaitu waktu kita bagi Tuhan? Ataukah kita masih sering menghamburkannya untuk diri sendiri, entah dengan alasan refreshing, me-time dsb. Dengan mengubah orientasi menggunakan waktu itu kita bisa menjadikannya sebagai persembahan bagi Tuhan. Di sisi lain pemberian terbaik kita bagi sesama bukankah juga waktu yang kita miliki?
3. Menjaga supaya api tetap menyala
Api yang tetap menyala di mesbah menjadi simbol kesetiaan imam dalam menjaganya itu juga menjadi tanda bahwa mereka tetap bersemangat melayani Tuhan. Dan bukankah Tuhan yang menghendaki supaya api itu tetap menyala. Tuhan menghendaki kesungguhan kita melayani Dia. Apakah selama ini kita juga berusaha sungguh2 menjaga supaya api pelayanan kita tetap menyala? Apakah kita setia dengan komitmen kita pada Tuhan?
Tuhan menghendaki api semangat kesetiaan kita terus menyala, sudahkah kita menjaganya? Ada berbagai cara menjaga api itu tetap menyala, bisa melalui ritual ibadah yang kita lakukan, bisa dengan mengambil waktu hening dalam hidup kita untuk secara khusus berelasi dengan-Nya. Bisa juga melalui pelayanan kita pada sesama dan masih banyak hal yang bisa kita lakukan dalam menjaga api itu terus menyala. Pertanyaannya, sudahkah kita sungguh2 mengusahakannya?

Kiranya Tuhan sendiri yang memampukan kita. Amin

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top