“Will You Be My Valentine?” (3rd of a Trilogy)

Valentine’s Day atau Hari kasih Sayang, bagi banyak orang merupakan hari yang special. Hari dimana kasih sayang diwujudkan dalam bentuk perhatian khusus, hadiah, maupun dirayakan dengan event yang special. Misalnya makan bersama dengan orang-orang yang disayangi. Sedangkan asal muasal/sejarah tanggal 14 Februari dirayakan sebagai Valentine’s Day itu sendiri, tidak begitu jelas. Bahkan ada beberapa versi cerita. Tapi yang jelas, saat ini makna Hari Kasih Sayang tersebut menyempit. Banyak yang mengartikan hanya kasih sayang antar pasangan kekasih.

Demikian juga dengan Glenn, walaupun dia sebenernya selama ini tidak terlalu peduli dengan hari kasih sayang tersebut, tapi gak apa-apalah…, sekali-sekali ikut merayakan juga.

2 tahun 3 bulan sudah Gleen dan Catherine saling mengenal satu sama lain, dan akhirnya mereka pun menjadi sepasang kekasih sampai saat ini. Semakin hari, mereka semakin saling mengenal. Ada sifat-sifat yang mereka saling tidak suka dan menyebalkan, tapi banyak juga hal-hal yang baik. Jangankan mengenai kebiasaan masing-masing, bahkan dari ekskpresi dan bahasa tubuh saja mereka bisa saling memahami, apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan oleh pasangannya.

Hari ini, secara khusus Glenn mengambil hak cuti di tempatnya bekerja, di sebuah perusahaan retail. Demikian juga dengan Catherine, atas permintaan Glenn, dia pun mengambil cuti juga. ‘Sayang, Valentine besok, libur nggak..? Aku mau ngajak jalan..’

“Emang mau kemana mas..?”

‘Hehehe, rahasia… Pokoknya siapin waktu aja ya…’

“Ya udah, nanti request cuti aja kalo gitu.”

Akhirnya, hari yang ditunggu itu pun datang juga. Pagi-pagi sekali Glenn sudah sampai rumah Catherine untuk datang menjemput. Hari itu seperti biasa Catherine terlihat sangat cantik. Dengan memakai blue jeans dan kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku, dia terlihat begitu segar. Rambut hitam panjangnya dibiarkannya tergerai. Membuat wangi Romance by Ralph Lauren sesekali tercium saat dia mengibaskan rambut. Hmmm…, tak henti-hentinya Glenn mengagumi sekaligus bersyukur, bahwa dia bisa memiliki cinta Catherine.

“Lho sayang…, kok kita kaya mau ke GOC. Emang mau kemana sih…?”. Akhirnya Catherine menyadari, ada yang aneh dengan perjalanan mereka. Memang setelah Glenn menjemput Catherine, mobil sengaja diarahkan menuju ke Cengkareng. Menuju Garuda Operation Center (GOC), kantor dimana Catherine bekerja.

‘Hehehe, kan emang mau ke GOC..’

“Lho, ngapain…?”

‘Mau nitip mobil, parkir…’

“Aaa… beneran nih, mau kemana sih kita sayang…?”

‘Iya, beneran… Emang mau nitip mobil di GOC. Kalo parkir di terminal kan panas, bayar lagi, hehehe… Kalo di GOC kan enak, udah gratis, parkirnya juga enak, adem dan ketutup.’

“Iya.., ngerti, mau nebeng parkir. Tapi abis itu kita mau kemana sih, kok mobilnyal diparkir di GOC…? Mas, iihhh.., jangan bikin penasaran dong…”

‘Hehehe, pokoknya surprise. Liat aja ntar ya… ’

 

Dengan Catherine masih tetap penasaran, mereka berdua pun menuju Terminal 2 dengan mengunakan shuttle bus. Tidak perlu waktu lama, dan mereka sekarang sudah berada di lounge, menunggu boarding call. Sampai saat itu, Catherine masih juga penasaran, masih belum tahu kemana mereka akan pergi. Ya, hal itu memang sudah direncanakan Glenn jauh-jauh hari sebelumnya. Dari sejak booking tiket. Dan kemarin secara khusus, Glenn pun sudah melakukan city check in.

Sesaat sebelum masuk gate F3, akhirnya Catherine tahu kemana tujuan mereka. Flight GA404 pagi itu akan membawa mereka menuju Denpasar. Ya, Bali. Pulau yang menjadi tempat awal pertemuan mereka berdua. Di sanalah Glenn merencakan untuk merayakan Valentine dengan Catherine. Walaupun sebelumnya sudah beberapa kali mereka pergi ke Bali bersama, perjalanan kali ini terasa berbeda. Sepanjang perjalanan mereka mengenang awal perjumpaan dulu. Saat itulah akhirnya Catherine mengakui, bahwa dulu dia memang sengaja untuk duduk di samping Glenn. Katanya sih, “wah, ini cowok cakep-cakep, kenapa mukanya kusut gitu ya…?”

Setibanya di Ngurah Rai tepat pukul 12.40, dengan menggunakan mobil rental, mereka pun langsung menuju Slavyanka Russian Resto untuk makan siang. Resto yang berada di jalan bypass Sanur ini (saat ini sih sudah pindah di Bali Collection, Nusa Dua), memang favorite mereka berdua.

Yang jadi menu andalan di sini selain shashlik, juga Russian steak-nya. Russian steak di Slavyanka memang berbeda dari yang lain. Daging has dalam tanpa lemak pilihan yang sudah dilumuri dengan rempah dan red wine, di-grill dengan api sedang. Setelah mencapai tingkat kematangan medium rare, steak diangkat dari api. Kemudian dengan diberi mozzarella cheese slice pada bagian atasnya, steak dimasukkan kembali ke oven sampai tercapai tingkat kematangan yang diinginkan; medium, medium well, atau well done.

Kematangan steak yang sempurna dengan cheese yang melted sebagai topping di atasnya, kemudian disajikan dengan sauted vegetables dan mashed potatoes.  Minuman yang tepat untuk menemani steak tersebut adalah Stolichnaya. Yaitu sebuah minuman khas Rusia yang terbuat dari buah strawberry segar yang dihancurkan secara kasar, dan di-mix dengan vodka dan grenadine syrup. Stolichnaya ini kemudian disajikan dengan es dalam high ball glass. Benar-benar paduan yang sempurna untuk menu makan siang.

Ahh…, kok malah jadi ngomongin makanan…? Baiklah lanjut ceritanya…

Memang, hari itu Glenn secara khusus sudah merencanakan secara mendetail, jauh-jauh hari sebelumnya. Semua tempat yang akan mereka kunjungi sudah di-reservasi. Demikian juga tempat tujuan mereka setelah makan siang. Yaitu, mereka kemudian menuju ke Ritz-Carlton (sekarang sudah berubah nama menjadi Ayana) di Jimbaran. Di sana Glenn merencanakan untuk menikmati sunset dan makan malam berdua dengan Catherine di Rock Bar.

Sambil menunggu waktu sunset yang masih beberapa jam lagi, Glenn juga sudah melakukan reservasi untuk spa terlebih dahulu. Hari itu, Glenn menginginkan semua berjalan dengan sempurna. Surprise demi surprise sudah direncanakannya, demi untuk menunjukkan betapa istimewanya Catherine dalam hidup Glenn.

Moment special saat dinner di Rock Bar nanti, juga sudah secara mendetail direncanakan Glenn. Untuk merayakan Valintine’s Day, Rock Bar juga mengadakan acara khusus, dan pengunjung diwajibkan menggunakan dress code, cocktail party dress. Dan Glenn pun sudah menyiapkan dress buat Catherine. Dia sudah memesan sebuah cocktail dress dari Uluwatu, sebuah handmade Balinese lace dress berwarna off white.

————————————————

Sore itu, Catherine pun terlihat sangat cantik. Setelah spa dan menggunakan cocktail dress dari Uluwatu, penampilannya saat itu terlihat sangat segar dan menawan. Di bawah terpaan sinar matahari sore yang sedang menuju cakrawala yang berwarna keemasan, sosok Catherine terlihat begitu sempurna. Saat tangan Catherine dipegang dan digandeng oleh Glenn, banyak mata memandang mereka dengan iri. Terpancar jelas rona bahagia di wajah Catherine. Sepertinya surprise yang diberikan Glenn, sangat berkesan baginya.

Dekorasi dan ornament serba pink, membuat atmosfer di Rock Bar menjadi semakin romantis. View dari table mereka pun sangat breath taking. Table mereka tepat berada tepi café, yang berdiri di atas batu cadas di ketinggian ±20 meter di atas laut. Langit yang memerah kekuningan dengan awan tipis putih yang berpendar terkena sinar matahari yang sedang tenggelam menuju peraduannya. Lighting yang temaram dan lilin di atas table yang bergoyang tertiup angin laut sore, semakin menambah dramatis suasana.

Dan akhirnya, purna sudah tugas matahari untuk hari itu, tenggelam sempurna. Dengan hanya pendar lampu yang ada dan api lilin yang terus bergoyang, sudah cukup untuk menerangi wajah Catherine yang bersinar bahagia. Sesaat kemudian jemari lentik milik Catherine pun direngkuh oleh Glenn. Seraya menatap wajah Catherine dengan lembut, Glenn pun mulai bicara…

‘Sayang, ada yang mau aku omongin. Tapi jangan dipotong ya sebelum selesai nanti…’

“Ya mas, sayang… Emang mau ngomong apa sih…??”

‘Gini sayang… Kita kan udah jalan cukup lama, udah 2 tahun lebih. Iya, memang adakalanya kita beda pendapat, bahkan sempet sampai diem-dieman juga. Dan aku dapat dikatakan juga sudah sangat mengenal sayang.  Baik dan jeleknya aku udah tau… Demikian juga, keluarga. Aku sudah kenal papa mama, dan sayang pun juga udah kenal bapak ibu di Jogja. Kalau aku gak salah mengartikan, sepertinya sayang pun juga sudah cukup mengenal aku, baik dan jeleknya aku… Dan aku merasa, sepertinya akan semakin tak terbayangkan apabila tidak ada keterlibatan sayang dalam kehidupanku selanjutnya…’

‘Aku gak akan bilang bahwa aku gak akan bisa hidup tanpa sayang di sampingku. Bukan gitu. Karena aku tau, aku bisa… Tapi sudah pasti hidupku gak akan sama lagi. Bukan kebahagian atau keceriaan. Tapi sudah pasti kesedihan dan keterpurukan. Seperti hari demi hari yang sudah pernah aku lalui sebelum aku mengenal sayang. Dan aku hanya butuh satu hal untuk membuat hidupku lebih berarti. Baik buat aku sendiri, buat keluarga dan saudara, buat orang-orang di sekitarku, dan terutama juga buat sayang. Aku ingin hidupku lebih berarti. Dan aku juga ingin membuat hidup sayang lebih berarti. Dan satu hal yg bisa membuat itu semua terjadi adalah seorang dengan nama Catherine.’

‘Catherine…’ sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil yang juga sudah Glenn siapkan dari dalam saku. Glenn pun kemudian mengeluarkan sebuah cincin dari dalam kotak tersebut…

‘Will you marry me…??’

Dan Catherine pun hanya terdiam. Tapi dari sorot mata dan ekspresinya, Glenn tahu apa yang ada dalam benak Catherine. Secara perlahan genangan air mata yang ada di ujung mata Catherine jatuh menetes… Dan secara perlahan pula senyum di bibirnya mulai mengembang. Sementara jemari lentik Catherine yang sejak tadi digenggam Glenn, secara perlahan meremas tangan Glenn…

Akhirnya, bibir Catherine pun mulai mengeluarkan suara, “I do… I really do…”

Pecah sudah kebahagian yang sudah sejak tadi Glenn tahan-tahan. Sangat melambung rasa hatinya mendengar secara langsung jawaban dari Catherine.  Dan perasaan itu benar-benar tak terkatakan dan sulit menemukan padanan katanya… Dan sayup-sayup terdengar suara dari dalam hati, lagu yang Glenn inginkan sebagai wedding song…

I guess the time was right for us to say

We’d take our time and live our lives

Together day by day

We’ll make a wish and send it on a prayer

We know our dreams will all come true

With love that we can share

 

With you I never wonder – will you be there for me?

With you I never wonder – you’re the right one for me?

 

I finally found the love of a lifetime

A love to last my whole life through

I finally found the love of a lifetime

Forever in my heart

I finally found the love of a lifetime

 

With every kiss, our love is like brand-new

And every star up in the sky

Was made for me and you

Still we both know that the road is long

We know that we will be together

Because our love is strong…

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top